 |
| Rute BRT Semarang |
 |
| Contoh Gambar BRT |
Setelah sampai di halte yang di tuju saya jalan kaki menyusuri trotoar kota semarang ke arah lawang sewu, karena halte terdekat dari lawang sewu hanya itu namun lumayan jauh dari lawang sewu. Hal ini membuat saya sempat mengabadikan satu foto saat duduk di bangku-bangku yang di sediakan di sepanjang trotoar. Hal yang membuat saya takjub dengan semarang adalah kebersihannya, disejauh mata memandang tidak ada sampah yang berserakan di jalanan, woooow, good job semarang.
Kami sampai di lawang sewu dan langsung membeli tiket tanpa pemandu dengan tarif Rp.10.000,-/orang. Hari itu lawang sewu cukup ramai karena weekend. jadi untuk mencari spot foto harus saling tunggu menunggu. Kami berhasil mengelilingi lawang sewu hanya saja kami tidak masuk ke penjara bawah tanah dan loteng, karena kami belum cukup berani untuk kesana, hehehehe. berikut beberapa foto yang saya abadikan disana :
 |
| eh ada yang ikutan |
 |
| didalam salah satu ruangan lawang sewu |
 |
| disalah satu koridor |
 |
| pohon besar di tengah lawang sewu |
 |
| candid ala-ala |
Setelah puas berkeliling lawang sewu tanpa menghitung jumlah pintu-pintunya hehehe, kami lanjut kekampung pelangi menggunakan grab, maaf lagi-lagi kami memilih naik grab, seharusnya saya sudah menjadi duta grab sekarang hahahaha. Tarif grabcar kesana sekitar Rp. 10.000,- Dikampung pelangi kami berhenti di gapura yang menjual berbagai macam bunga, untuk masuk kedalam kampungnya kita bisa masuk dari gapura mana saja, begitu pun turunnya, tidak ada biaya yang dikenai disini, tapi setidaknya kita memberikan sedikit tanda terima kasih. Kampung ini cukup amat tinggi menurut saya, walaupun di sediakan tangga agar lebih mudah naik tapi tetap saja menurut saya ini tinggi sekali, salah melangkah bisa kepleset, saran saya lihat petunjuk yang di tempel oleh warga sekitar jika harus berpegangan maka harus karena mungkin jalannya sangat licin. Tapi sejauh mata memandang kita bisa melihat berbagai rumah dicet warna-warni. Baik tembok, jalanan, sampai atap semua berwarna-warni. Tidak harus penggemar seni saja yang harus mampir kesini, tapi bagi yang penggila hunting spot-spot unik untuk sosial medianya juga langsung jatuh cinta karena banyak sekali spot-spot yang di sediakan warga kampung pelangi. Saya pun tidak mau kalah untuk foto di sepanjang jalan kampung pelangi.
 |
| Kali depan kampung pelangi |
 |
| Kali depan kampung pelangi |
 |
| ngaca |
 |
| bale-bale |
 |
| pemandangan dari atas kampung pelangi |
 |
| gapura saat keluar dari kampung pelangi |
 |
| tangga |
 |
| aspal warna-warni |
Sekitar jam 11 siang kami turun dari kampung pelangi yang cukup ekstrim itu, kami juga sempat membuat video dokumentasi
Rasanya Turun dari kampung pelangi, semarang. Sampai di bawah kami memesan grab car lagi dan langsung menuju, klenteng sam poo kong. Tarifnya sekitar Rp. 13.000,-.
Tarif untuk masuk klenteng sam poo kong sekitar Rp. 8.000,-/orang tapi untuk masuk kedalam tempat ibadahnya kita harus menambah biaya sebesar Rp. 20.000, namun saya dan teman saya memilih hanya masuk pelataran klenteng saja. karena niat kita dari awal hanya foto-foto hehehe.
Foto disana berasa foto di china karena nuansanya merah-merah.
 |
| halamannya klenteng |
 |
| serasa di luar negeri |
 |
| Klenteng |
 |
| detailnya sangat indah |
Tidak lama didalam klenteng sam poo kong kami jalan keluar dari sam poo kong, karena sudah jam 12 siang kami berniat untuk cari makan, di luar klenteng banyak jajanan kaki lima yang cukup standar harganya. karena kami sama-sama suka mie ayam jadilah beli mie ayam sekitar 12 ribu tanpa baso.
Setelah selesai kami memesan lagi grab car, lumayan ya bolak-balik naik grab car, jangan ditiru karena males naik angkutan umum jadi yang praktis naik yang online aja hehehe, tujuan selanjutnya yaitu Museum Ronggowarsita, tiket masuknya Rp. 4000,-/orang, saat itu sebelah museum sedang dipakai acara resepsi gitu jadi museumnya sepi banget dan kurang penerangan. Isi dari museum ini adalah tentang sejarah kota jawa gitu dari gunung merapi, candi, sampai contoh-contoh kerangka manusia purba. Awal masuk saya biasa aja, saya mengeluarkan tripod dan masang kamera karena balik lagi tujuan kami hanya foto-foto saat itu ada salah satu contoh kerangka gajah yang besar banget, teman saya pun menyuruh fotoin, yaudah saya fotoin, satu dua kali lancar tapi tiba-tiba kameranya menangkap fotonya lama bahkan sudah saya pencet masih belum menangkap gambar, saya pikir oh karena minimnya cahaya, yasudah kami tukeran foto, tapi hal yang sama terjadi lagi gambar yang dihasilkan blur, saya sudah firasat buruk, jadi saya mengajak teman saya untuk pindah dari spot tersebut, lanjut kami melintasi ornamen-ornamen tentang zaman purba, saya sempat kaget saat melihat kerangka manusia purba yang saya kira manusia, tapi saya stay cool aja, sampai di suatu spot dimana ada miniatur candi borobudur yang membuat saya kaget dan mengajak teman saya untuk keluar dari ruangan tersebut. Kamar mandinya pun jorok dan kotor, engga tau karena lagi dipakai acara resepsi atau memang tidak terawat. Saya cukup takut untuk melanjutkan menyusuri museum tersebut dan memutuskan untuk pindah ketujuan selanjutnya, berikut beberapa foto yang sempat saya ambil sebelum akhirnya kabur meninggalkan museum tersebut.
 |
| kerangka kerangka |
 |
| masuk museum |
 |
| patung gajah |
 |
| mulai ngeblur |
 |
| masih ngeblur |
 |
| cuma ini yang sedikit fokus |
Lanjut dari meseum tersebut, kita menuju kota lama karena penasaraan dengan gereja blenduk dan suasana kota jaman dulu yang ada di semarang. awalnya mesen grab tapi pas lihat tarifnya Rp.22.000,- kami membatalkan dan mencoba pakai aplikasi online yang lain yaitu go car dan tarifnya Rp. 11.000,- akhirnya kami memesan gocar, gimana mau jadi duta grab kalo harga mahal dikit langsung pindah ke lain hati :D. Saat itu jalan di kota lama sedang ada perbaikan alias galian di kiri kanan jalannya, cukup menyulitkan untuk dilalui oleh 2 mobil. Kami turun di taman sri gunting, sebelahan dengan gereja bledug. Taman sri gunting saat itu tidak terlalu ramai, tapi kata bapak gocarnya bakal ramai di malam harinya banyak lampu warna-warni. Kami tidak bisa masuk kedalam gereja bledug, jadi kami memutuskan untuk keliling-keliling sekitaran kota lama aja, sambil hunting foto-foto di sudut kota lama yang masih klasik banget.











sekitar pukul 4 sore kami memutuskan untuk kembali kepenginapan dikarenakan memory kamera si nia penuh jadi harus memindahkan beberapa foto dulu, jadilah kami pulang, walaupun alasan sebenarnya kami udah pegel dan capek seharian.
setelah istirahat kami balik lagi ke kota lama sambil cari makan malam, kami naik BRT untuk menghemat ongkos, kami turun di halte deket tawang kalau tidak salah, lalu jalan kaki di kekota lama, soalnya kata kenek BRTnya turun di halte kota lama gelap dan bahaya, yaudah nurut aja. kami sempat foto didepan pabrik rokok
Kami menelusuri gang-gang di belakang pabrik rokok ini dan sampai di taman sri gunting lagi, tiba-tiba hujan turun cukup besar, dan kebetulan kami tidak membawa payung, karena kami pikir ga bakal ujan taunya malemnya ujan gedek banget hehehehe kami neduh di bangunan tua yang terasnya cukup besar, banyak juga yang neduh, jadi kami berani neduh. Agak creepy dan saya sempat mengabadikannya.
 |
| teras tempat kami neduh |
 |
| depan bangunan tempat kita neduh |
 |
| saat hujan turun |
setelah hujan reda, kami berjalan kearah old city tempat foto 3d itu loh, kami tidak masuk hanya berfoto di luarnya saja, lalu bertemu mahasiswa yang menjual susu untuk tugas kampusnya, dan kami beli sambil di bawa jalan-jalan, kami bertemu pengamen angklung yang seru abis.
setelah itu kami jalan ke arah taman sri gunting, bener kata orang di taman sri gunting ramai seperti pasar malem. kami sempat melihat-lihat pasar yang menjual barang antik seperti koper kamera dll. tapi kami tidak berniat untuk membelinya hehehe. begini foto-fotonya :









Kami makan nasi padang disekitar kota lama yang harganya cukup murah. Setelah itu kami balik ke gang yang ada disekitar kota lama kearah pulang. lalu kami menemukan spot foto yang bagus dan sepi tidak seperti di taman sri gunting, awal foto lancar, seperti yang di museum waktu itu lagi-lagi kamera mulai ngeblur dan memproses hasil foto lama, padahal sebelumnya lancar-lancar, mulai parno dan memutuskan untuk pindah, dan jalan ke arah depan, kami menemukan tempat teater terbuka yang kalo kita bicara di tengah akan bergema, lagi asik-asik berfoto tiba-tiba perasaan saya tidak enak, dari arah belakang saya terdengar jelas sekali di kuping saya ada suara ketawa yang cukup nyaring, dari sosok yang tidak asing lagi yaitu Tante K. Saya langsung mengajak si nia untuk pergi dan balik ke penginapan.
 |
| spot pertama saat kamera mulai blur |
 |
| spot 1 |
 |
| spot 2 saat mendengar suara ketawa |
 |
| tampak samping teater |
Hari kedua selesai dengan berbagai macam keanehan yang kami dapat tapi tidak membuat kita takut dan lantas pulang, karena esok harinya kami balik lagi ke kota lama dan mampir di pasar makan nasi goreng. setelah itu mencari oleh-oleh di sekitaran kota lama, dan packing lanjut ke stasiun dan pulang ke jakarta.
saran di hari kedua di semarang :
1. Jangan lupa baca doa sebelum mampir ketempat asing (ini penting)
2. Coba naik transportasi umum agar lebih hemat.
3. Jangan lupa sedia payung karena hujan turun ga bilang-bilang
4. Harus liburan seminggu biar puas dan engga di paksain kesemua tempat kaya kami hehehe
5. Kalo bisa coba juga wisata alam yang ada di semarang, yang bagus-bagus, karena kami tidak sempat datangi.
sekian dari saya kalo kalian suka jangan lupa share lagi ke teman-teman, kali aja butuh buat referensi liburan di semarang singkat kaya saya. Jika ada tempat dan lokasi yang salah saya sebut saya mohon maaf. bye
Komentar
Posting Komentar